Pada masa-masa cocoknya pada hari akhir pekan, kami sepakat guna ketemuan di salon X tersebut pada pukul 01:00 siang. Saat tersebut aku-pun segera bergegas berangkat ke salon tersebut bermaksud guna terbuktikas rambutku.
Seusai sejumlah waktu, akhrnya aku-pun hingga disalon itu. Saat tersebut aku menyaksikan jam tanganku memperlihatkan pukul 1 tidak lumayan 5 menit. Serta saat tersebut juga aku menyimpulkan untuk masuk kesalon itu.
Sewajarnya salon, saat tersebut suasana di salon tersebut terasa normal sekali serta tidak tidak ada urusan yang aneh sedikit-pun. Ketika aku masuk, saat tersebut aku-pun mengarah ke pada receptionis.
Disana aku-pun menuliskan bahwa aku berniat guna pangkas rambut. Dari balik meja receptionis tersebut seorang perempuan cantik berkata padaku. Agar aku menunggu sejenak sebab saat tersebut pekerja salon sedang sibuk melayani semua pelangganya. Yang Setia Hanya Di ;

Saat tersebut sembari menunggu antrian, aku-pun mengupayakan untuk menonton-lihat keadaan salon tersebut. Serta sembari menggali kawanku yang sebelumnya telah berjanjian denganku. Tetapi saat tersebut kawanku tidak ada.
Kuakui bahwa nyaris semua perempuan yang bekerja di salon ini rata-rata cantik, putih serta mempunyai body yang sexy. Ditambah lagi rata-rata mereka tetap muda, bila aku perkirakan umurnya selagi 20-27 tahun.
Menonton semua wanita salon tersebut aku sehingga terkenang dengan omongan kawanku, bahwa semua wanita salon ini bisa diajak kencan. Berhubung aku aku baru kesatu kali ke salon tersebut ragu. Sebab salon tersebut sangatlah laksana salon biasa tidak nampak andai ada ++ nya.
Kira-kira seusai sejumlah waktu aku menungguantrian, pada ketelahannya aku mendapat gilirianku. Saat tersebut reception berkata bahwa saat ini giliranku guna pangkas rambut.
Receptionis tersebut saat tersebut menunjuk kekursi yang kosong serta aku bergegas mengarah ke ke kursi itu. Lantas seusai aku duduk, tidak lama lantas seorang perempuan salon yang muda nan cantik datang kearahku serta memegang rambutku.
“ Mau model apa Mas, potong rambutnya ?, ” tanyanya padaku.
“ Eummm apa yah Mba’, apa aja deh Mba” yang penting rapi, ” ucapku sekena-nya.
Lalu layaknya di salon pada umumnya, aku-pun lantas diberi penutup badan untuk agar rambut yang dipangkas tidak mengenai bajuku.
Pada tadinya suasana terasa kaku, tetapi saat tersebut aku mengupayakan untuk mengencerkan suasana agar terasa relax,“ Ngomong-ngomong, udah berapa lama Mba’ kerja di sini?, ” tanyaku basa-basi.
“ Baru kog Mas, baru 5 bulan, ngomong-ngomong Mas baru kesatu kali ya cukur di sini?, ” ucapnya sembari terbuktikas rambutku.
“ Iya nih Mba’, kebetulan saya kemarin lewat serta menyaksikan ada salon.
Ya udah deh ketelahannya saya inginkan coba cukur di sini. Lagian saya pun lagi janjian sama temen buwat ketemu disini Mba’. Eh… justeru hingga saat ini belum datang pun ?, ” jawabku.
“ Ouhhh… ” jawabnya pendek serta berkesan cuek.
Tidak lama seusai tersebut pada ketelahannya kawanku-pun datang juga,
Broooo panggil kawanku padaku.
“ Lama banget sih loe, kemana aja loe ?, ” tanyaku.
“ Sory bray, tadi di jalan macet, yaudah gue pangkas rambut dulu yah bray… ” jawabnya seraya berlalu.
Kawanku-pun berakhir begitu saja. Saat itu-pun pangkas rambut sembari mengobrol. Pendek kisah dari obrolan-obrolan tersebut kami-pun mulai relax. Dari dialog kami, aku memahami bahwa dirinya mempunyai nama Hendrika, serta dirinya berumur baru berumur 21 tahun.
Hendrika bermukim di kost-kostsan kurang lebih salon itu. Saat ini akupun telah berakhir, lantas aku-pun menyerahkan trik sekedarnya. Sembari aku menanyakan apakah dirinya inginkan aku ajak keluar.
Saat tersebut Hendrika-pun mengamini serta dirinya mencatat nomor ponsel-nya pada selembar kertas kecil. Seusai selsai aku tidak kembali begitu saja, saat tersebut aku tetap menunggu Roni kawanku tadi.
Sembari menunggu Roni, aku-pun membual dengan Hendrika, saat tersebut aku sempat diperkenalkan oleh sejumlah kawan-kawanya. Kawan Hendrika pun terbukti cantik, tetapi menurutku Hendrika-lah yang sangat cantik.
Singkat kisah pada ketelahannya kami-pun ketemuan pada hari Senin di lokasi yang telah kami sepakati sebelumnya. Seusai santap siang, kami nonton bioskop.Saat tersebut Hendrika tampak cantik sekali semacam anak abg.
Dalam hati aku mengatakan, cantik sekali Hendrika hari ini. Saat itu Hendrika memakai pakaian yang seksi dengan belahan dada yang terkesan. Kami serius mengikuti alur kisah film itu, hingga akhirnya semua pemirsa dikagetkan oleh sebuah adegan Poker vip-aduq.xyz
Hendrika terkesan kaget, tampak dari bergetarnya tubuh dia. Entah tersedia setan apa, dengan cara reflek aku memegang tangan kanannya. Lumayan lama kugenggam tangannya yang mulus. Pendek, aku mengirimkan dirinya kembali ke kostnya.
Di tengah jalan Hendrika memohon kepadaku untuk tidak langsung kembali tapi putar-putar dulu. Kukabulkan permintaannya sebab aku sendiri sedang bebas.
Lalu aku menyimpulkan untuk naik tol serta putar-putar kota Jakarta. Sambil merasakan musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Hendrika mengatakan.
“ Eummm… Dedi, aku inginkan ngomong sesuatu sama kamu, terbukti seluruh ini terlampau cepat.
Tetapi aku mesti menyebutkannya hari ini ke kamu, Eeee… aku suka sama kamu Dedi… ” ucapnya lirih.
Saat tersebut aku merasa laksana tersambar petir mendengar ucapnya itu, serta dengan cara refleks aku-pun menengok kearah-nya. Ketika tersebut nampaknya raut mukanya paling serius dengan apa yang barusan dirinya katakan sembari matanya menatap tajam padaku,
Apa kamu telah yakin dengan omonganmu yang barusan, Hendrika?, ” tanyaku seraya kembali fokus ke jalan.
Aku nggak tau kenapa, aku merasa bila kamu itu lain sama cowok-cowok yang sempat aku kenal sebelumnya. Kamu tersebut baik, serta kayaknya kamu tersebut care banget sama cewek. Aku nggak mau bila seusai aku kembali ini, kamu nggak bisa ketemu lagi, Dedi. Aku nggak inginkan kehilangan kamu, ” ucap-nya panjang lebar.
Eummm… bila aku boleh jujur sih, aku pun suka sama kamu, Hendrika… tapi bagianan baiknya andai kami saling mengetahui lebih dalam lagi baru kelak kamu pacaran?, ” jawabku tegas.
Baiklah kalau tersebut mau kamu Dedi, Eummm… aku boleh cium kamu nggak. Ini bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku yang barusan Dedi ?, ” ucapnya dengan wajah serius.
Wah rasanya laksana mau mati, jantungku inginkan copot, nafas sehingga sesak. Edan ini anak, laksana sangatlah! Sekali lagi, aku menengok ke kiri menyaksikan wajahnya yang bulat. Dengan bola mata yang berwarna coklat, dirinya menatapku tajam serta serius sekali.
Emmm… Kini Hendrika ?, ” tanyaku seraya menatapnya.
Saat tersebut dirinya melulu menganguk serta,
Okey, kini kamu boleh cium aku, ” ucapku sembari pulang ke jalanan.
Berbagai detik lantas Hendrika-pun beranjak dari lokasi duduknya serta memungut posisi guna memberi sebuahcium di pipi kiriku. Diberilah sebuahciuman di pipi kiriku seraya memeluk. Lama sekali dirinya menghirup serta ditempelkannya buah dada-nya di lengan kiriku.
Beuhhh, lunak sekali kawan, mak nyosss. Buah dada-nya yang lumayan menantang tersebut sedang mengurangi lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku sehingga sangek gilak.
Sebagai laki-laki normal dengan cara otomatis batang kejantananku juga menegang. Dengan pelan sekali, Hendrika berbisik,
Dedi aku suka sma kamu, ucapnya sambil menempelkan toketnya ke lenganku. Konsentrasiku buyar, kelihatannya aku sangatlah telah horny dengan perlakuan Hendrika. Serta sejumlah kendaraan yang melaluiku menyaksikan ke arahku menjebol kaca filmku yang melulu 40%. Lalu,
“ Kamu horny ya, Dedi?, ” ucapnya lirih.
Saat tersebut aku tidak menjawab, serta tangan kirinya saat tersebut mulai meraba tubuhku serta menuju bawah, saat tersebut aku telah sangatlah horny. Sekali lagi Hendrika berbisik,
“ Dedi, aku tahu kamu horny, boleh nggak aku lihat punya kamu ? emmm… punya kamu besar yah!, ” ucapnya.
Saat tersebut aku melulu mengangguk saja, ketelahannya dibukalah celana panjangku dengan tangan kirinya. Laksana dirinya agak kendala pada saat hendak membuka ikat pinggangku sebab dirinya melulu memakai satu tangan.
Aku tolong dirinya membuka ikat pinggang seusai tersebut aku pulang memegang setir mobil. Dielus-elus batang kejantananku yang telah keras dari luar. Tidak lama lantas ditelusupkan telapak kirinya ke dalam serta digenggamlah kejantananku.
“ Oughhhhh… ” desahku pelan.
Sedikit demi tidak tidak sedikit wajahnya bergerak. Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri kemudian turun ke bawah. Lalu dia-pun menghirup leherku, saat tersebut dirinya sempat berhenti di unsur dadaku, siapa tahu dirinya menikmati wewangian parfumku.
Lalu dia-pun terus turun ke bawah. Berbagai kali Hendrika mengerjakan gerakan mengocok kejantananku. Pertama-tama dijilatinya pangkal batang kejantananku lalu beralih naik ke atas.
Kini ujung lidahnya telah berada pada unsur buah zakarku. Salah satu tangannya menyelinap salah satu belahan pantatku, menyentuh anusku, serta merabanya. Hendrika melanjutkan perjalanan lidahnya, naik terus ke atas, perlahan-lahan.
Setiap gerakan hampir dalam sejumlah detik, teramat perlahan. Melalui unsur tengah, naik lagi. Ke unsur leher batangku. Kedua tanganku tidak kusadari telah memegang erat setir mobil. Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi.
Pelan-pelan masing-masing jilatannya kurasakan laksana kenikmatan yang tidak sempat usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku menyaksikan apa yang diperbuatnya setiap kali tersebut pula.
Kulihat Hendrika tetap tetap menjilati kejantananku dengan sarat nafsu. Sesaat Hendrika kulihat melepas tangannya dari kejantananku serta menyibakkan rambutnya ke samping. Saat ini jemarinya kembali unik bagian bawah batang kejantananku serta memiringkan kepalanya.
Hendrika mulai menurunkan kepalanya menuju kepala kontolku. Serta kini mulailah merekahkan kedua bibirnya dengan perlahan kemudian dirinya mulai memasukkan kepala kejantananku. Ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya.
Kemudian dia-pun mulai menggerakan dengan cara perlahan terus jauh hingga di unsur tengah batang kejantananku. Saat itulah kurasakan kepala kejantananku menyentuh unsur lidahnya.
Tubuhku bergetar sesaat serta tersiar suara khas dari mulut Hendrika. Kedua bibirnya sesaat lantas merapat. Kurasakan kehangatan yang spektakuler nikmatnya menyiram sekujur tubuhku. Perlahan-lahan lantas kepala Hendrika mulai naik.
Bersamaan dengan tersebut pula kurasakan tangannya unik turun unsur bawah batang tubuh kejantananku. Hingga ketika bibir serta lidahnya menjangkau di unsur kepala, kurasakan unsur kepala tersebut terus sensitif.
Begitu nikmatnya sepongan dari mulut Hendrika begitu merasuk serta menggelitik semua urat-urat syaraf yang tersedia di sana. Kuraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu menuju bawah. Kudapatkan buah dada sebelah kanan, aku buka telapak tanganku mengikuti format buah dada-nya yang bulat, lantas aku meremas-nya dengan lembut.
Lalu aku buka satu persatu kancing rompinya, serta pulang aku membuka telapak tangan mengikuti bentuk buah dada-nya. Sambil dihisap oleh Hendrika diarahkannya tanganku menuju toketnya. Dibali bajunya yang ketat ku remes remas kedua toketnya yang kenyal.
Kemudian aku-pun mulai meremas satu persatu buah dada-nya seraya mendesah merasakan kuluman pada kejantananku. Kuremas agak powerful serta Hendrika juga berhenti mengkulum sekian detik lamanya.
Kuelus-elus kulit dadanya yang agak menyembul dari BRA-nya dengan sesekali menyelipkan di antara jariku salah satu buah dada-nya yang kenyal,
“ Sssssss… Aghhhhh…. ” desahku nikmatku merasakn kuluman Hendrika yang kian cepat.
Aku turunkan BRA-nya yang menutupi buah dada sebelah kanan, aku bisa meraih putingnya yang telah mengeras. Kupilin dengan lembut,
Oughhhhh Hmmmmmm Pop bunyi lepasan sepongan dari kontolku.
Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya berulang-ulang. Aku tidak bisa lagi menyaksikan ke bawah.
Tubuhku terus lama terus melengkung ke belakang kepalaku telah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku. Hendrika begitu spektakuler meperbuatnya. Tidak sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit kejantananku. vip-aduq.xyz
Gila, belum sempat aku dihisap laksana ini, pikirku.
Pikiranku telah melayang-layang jauh entah ke mana. Tidak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang kebahagiaan yang mendera semua urat syaraf di tubuhku yang terus tinggi. Aku berhenti sejenak meraba buah dada-nya.
Kutengok ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat serupa di unsur leher batang kejantananku, serta dirinya tampak tersenyum kepadaku.
“ Kamu spektakuler Hendrika… Oughhhhh… ” bisikku seraya menggeleng-gelengkan kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya.
Saaat tersebut Hendrika melulu tersenyum manis serta berkesan manja,
“ Hendrika, bisa keluar aku bila kamu kayak gini terus, ” bisikku lagi merasakan cengkeraman tangannya yang tidak kunjung mengendur pada kejantananku. Hendrika melulu tersenyum.
Kalau kamu udah pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan, ” jawabnya.
Lalu seusai tersebut Hendrika menjulurkan lidahnya terbit serta mengenai ujung batang kejantananku. Rupanya dirinya memahami aku sedang berusaha untuk menyangga orgasme-ku,
Uhhhhhhh desahku sebab rasa nikmat serta ngilu yang di berbagi Hendrika.
Sungguh nikmat kurasakan dimana Hendrika terus mempercepat gerakan naik turun kepalanya. Kedua tangannya tidak henti-henti meraba dadaku. Terkadang dirinya memilin kedua puting susuku dengan jarinya.
Terkadang dirinya pun melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak kemudian melanjutkannya lagi. Terus lama gerakannya kian cepat. Aku telah berjuang semaksimal untuk menyangga orgasme.
Saat tersebut aku memindahkan perhatianku dari buah dada-nya. Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kancing celananya. Agak lama kucoba membuka serta ketelahannya terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya.
Aku bisa rasakan rambut kewanitaan-nya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke bawah. Hendrika mengolah posisinya, dengan merenggangkan kedua kakinya.
Hal ini memudah aku bisa menyentuh kewanitaan-nya. Berbagai ketika telunjukku bermain-main di unsur atas kewanitaan-nya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. nikmat sekali rasanya, pikirku.
Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam liang senggama-nya. Mulailah aku menjelajahi masing-masing aspek liang senggama Hendrika. Aku temukan sebuahkelentit di dalamnya, kemudian aku umainkan clitoris tersebut dengan telunjukku.
Oughhhhh, pegal pun rasanya tangan kiriku.
Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku merasakan setiap kuluman Hendrika. Rasanya telah sejumlah tetes air maniku keluar. Aku sangatlah diciptakan mabuk kepayang olehnya.
Kembali kukobel celah memeknya dengan kedua jariku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Hendrika terkesan melengkuh serta mendesah pelan.
Terus lama terus cepat aku mengeluar-masukkan kedua jariku di liang senggama-nya serta Hendrika. Hingga berbagai kali ia menghentikan kuluman pada batang kejantananku seraya tetap memegang batang kejantananku.
Entah telah berapa orang yang menonton pekerjaan kami khususnya semua supir alias kenek truk. Yang kami lewati, tetapi aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat tersebut sangatlah membiusku hingga-sampai aku telah melupakan segala sesuatu.
Saat tersebut Hendrika pulang menjilat, menghisap serta mengkulum batang kejantananku serta entah telah berapa lama kami mengerjakan ini. Kutundukkan kepalaku untuk menyaksikan yang sedang digarap Hendrika pada kejantananku.
Hari ini Hendrika mengerjakan dengan sarat kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung kepala kejantananku lagi. Ia memutar-mutarkan lidahnya cocok di ujung celah kejantananku.
Sungguh dashyat kebahagiaan yang kurasakan.
Berbagai kali tubuhku bergetar tetapi ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan seluruh batang kejantananku di dalam mulutnya serta ia mainkan lidahnya di dalam.
“ Oughhhhh.. Hendrika… nikmat… Sssss… Aghhh… ” desahku sambil mencungkil tangan kiriku dari liang senggama-nya.
Saat tersebut aku memegang kepalanya mengekor gerakan naik turun, lalu,
“ Oughhhhh… Hendrika, aku udah nggak powerful nihhh… Aghhhhh… ” ucapku agak lirih menyangga orgasme.
Tetapi gerakan Hendrika kian cepat serta sejumlah kali dirinya buka matanya tetapi tetap mengkulum serta tersiar suara-suara dari dalam mulutnya,
Uuaaaahhhhh racauku saat ku keluarkan Sperma ku ke dalam mulutnya Hendrika.
Ketika tersebut keadaan mobil kami saat tersebut sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku merasakan setiap air mani yang terbit dari dalam kejantananku hingga akhirnya habis. Hendrika tetap menjilati kejantananku dengan lidahnya.
Bisa kurasakan lidahnya menyapu semua bagian kepala kejantananku. Oughhh, nikmat sekali rasanya. Seusai mencuci seluruh air maniku dengan lidahnya, Hendrika bergerak ke atas.
Kulihat dia, terkesan ada sejumlah air maniku menempel di sebelah kanan bibirnya serta pipi kirinya. Aku mulai bergerak membetulkan posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang kejantananku yang telah lemas,
Hendrika beranjak ke atas melumat bibirku, tetap terasa air maniku. Sekian detik kami bercumbu serta aku memejamkan mata. Akhirnya Hendrika memselesaikan posisinya, kemudian dirinya duduk serta memselesaikan pakaiannya.
Saat tersebut aku-pun memselesaikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku tetapi tidak kumasukkan kemejaku. Kemarin hari setelah itu, aku main ke kost Hendrika serta pada saat tersebut pula kami mengikat tali kasih.
Awal bulan Maret kemudian Hendrika pulang dari Manado setelah 2 minggu. Dirinya sedang di sana serta dirinya tidak pulang lagi bekerja di salon vip-aduq.xyz itu. Kini kami nasib bareng di sebuahtempat di wilayah Grogol.
Kini Hendrika-pun diterima sebagai operator di di antara perusahaan penyedia jasa komunikasi ponsel. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang bekerja di sebuahperusahaan di wilayah Kedoya tetapi aku mesti meninggalkan kostku.
Seusai aku tinggal 1 kamar dengannya Hendrika mengakui selagi bekerja di salon. Ia sempat melayani pelanggannya serta dirinya menceritakan bahwa seluruh pekerja yang bekerja di salon tersebut juga pekerja sexs.
Hendrika tidak memahami bagaimana asal mulanya. Hendrika sendiri tidak tahu apakah salon merupakan sebuah kedok alias sexs ialah sebuah tambahan.
Dirinya menuliskan bahwa guna mengundang terbit salah satu karyawati di situ. Seseorang mesti menunaikan di muka sebesar Rp 500.000. Rasanya Jakarta melulu milik kami berdua. Tiap malam setelah mandi sepulang dari kerja alias seusai santap malam, kami mengerjakan hubungan.
Entah hingga kapan seluruh ini bakal berakhir serta entah kapan kami bakal resmi menikah. Kami sungguh merasakan setiap hari yang bakal kami lalui serta telah kami lalui bersama.
Jujur saja aku tidak terlalu mempedulikan masa lalunya. Sebab aku kian terbius oleh kebahagiaan serta mataku seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia. End




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.